![]() |
| Pancasila in Greyscale |
Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Kelima poin barusan merupakan buah pemikiran para filosof bangsa Indonesia khususnya The Founding Fathers yakni Pancasila, yang seharusnya mendarah daging pada generasi penerus bangsa, para praja muda Indonesia. Namun, apa kenyataan yang ada sejalan dengan ekspektasi yang kita harapkan? Jika tidak, mengapa hal yang sedemikian bisa terjadi? Apa yang salah? Siapa yang dipersalahkan?
Adanya pendidikan Pancasila merupakan kebutuhan yang tak terhindarkan bagi bangsa Indonesia saat ini. Pasalnya, Pancasila sendiri merupakan nilai-nilai luhur bangsa yang telah tercipta sejak dahulu kala (Past). Pancasila sendiri juga merupakan dasar serta falsafah bagi negara kesatuan kita, Republik Indonesia (Present). Ditambah lagi, Pancasila merupakan cita-cita luhur bangsa Indonesia untuk kedepannya, demi tercapainya Indonesia yang adil makmur serta sejahtera (Future). Ketiga konsep barusan merupakan bukti bahwa dasar negara kita, Pancasila memiliki sifat dinamis yang selalu mengikuti perkembangan zaman. Pancasila yang merupakan sebuah sejarah, Pancasila yang menjadi tragedi masa kini, serta Pancasila yang berperan sebagai harapan masa depan.
"Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudra agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelaan cita-cita." Ir. Soekarno
Adanya pendidikan Pancasila merupakan kebutuhan yang tak terhindarkan bagi bangsa Indonesia saat ini. Pasalnya, Pancasila sendiri merupakan nilai-nilai luhur bangsa yang telah tercipta sejak dahulu kala (Past). Pancasila sendiri juga merupakan dasar serta falsafah bagi negara kesatuan kita, Republik Indonesia (Present). Ditambah lagi, Pancasila merupakan cita-cita luhur bangsa Indonesia untuk kedepannya, demi tercapainya Indonesia yang adil makmur serta sejahtera (Future). Ketiga konsep barusan merupakan bukti bahwa dasar negara kita, Pancasila memiliki sifat dinamis yang selalu mengikuti perkembangan zaman. Pancasila yang merupakan sebuah sejarah, Pancasila yang menjadi tragedi masa kini, serta Pancasila yang berperan sebagai harapan masa depan.
Masalah utama yang sering dihadapi adalah, fungsi serta kegunaan dari pendidikan nasionalisme itu sendiri. Karena banyak dari muda-mudi kita berpikir bahwa Pancasila dan "kawan-kawan"-nya hanya cocok atau berlaku untuk mereka yang duduk di kursi parlemen, atau yang lebih dikenal sebagai Wakil Rakyat. Sikap acuh ini merupakan salah satu faktor utama padamnya semangat-semangat pendidikan Pancasila.
Mengingat kalimat sang proklamator kita, Ir. Soekarno tentang 10 pemuda yang akan mengguncang dunia, sudah sewajibnya, kita sebagai generasi penerus bangsa mengerti benar mengenai hakikat Pancasila itu sendiri. Sehingga terciptanya suatu Pendidikan Pancasila mampu membentuk generasi yang Patriotik serta Nasionalis, hal ini juga demi terciptanya pemuda-pemuda pengguncang dunia. Bagaimana cara mengimplementasikan Pendidikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari merupakan tantangan tersendiri bagi para pahlawan tanpa tanda jasa, para pendidik bangsa Indonesia.
How?
Lingkungan Ajar
Pengaplikasian Pendidikan Pancasila (P3) ini mampu diterapkan pada jenjang sedini mungkin, yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hal ini dikarenakan seorang anak usia dini, lebih mudah untuk ditanamkan nilai-nilai nasionalisme daripada mereka . Disini, peranan guru adalah menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak didiknya, misal: seorang anak muslim yang diajarkan tentang tata cara Sholat untuk ibadah, hal ini akan dikaitkan kepada pemahaman sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa. Hal ini juga berlaku untuk jenjang berikutnya seperti Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) maupun Tingkat Atas (SLTPA). Tentu saja hal ini diimbangi dengan penyampaian materi yang makin berbobot sesuai dengan jenjang yang diajar.
Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga juga merupakan fondasi utama untuk penanaman jiwa-jiwa Pancasila. Dari ruang lingkup inilah peranan seorang orang tua dipertanggung jawabkan untuk mencetak generasi muda yang mampu bertanggung jawab seutuhnya menjadi warga Negara Indonesia yang baik. Dalam proses pendidikannya, orang tua diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila di kehidupan berkeluarga sehari hari.
Lingkungan Bermain
Perlu diketahui bahwa kawula muda juga mampu menjadi agen pendidik Pancasila kepada kawan sebayanya. Dalam hal ini, Lingkungan "Bermain" merupakan topik yang tepat untuk menerapkannya. Intensitas kawula muda dalam bergaul dapat dijadikan sebagai media pembelajaran Pancasila, karena sejatinya, generasi muda akan lebih giat dalam belajar mengenai suatu hal yang dibalut rapi dengan nuansa permainan, semisal: hukuman untuk menghafal butir-butir Pancasila kepada mereka.
Ketiga lingkungan di atas merupakan 3 ruang lingkup utama yang mampu dijadikan sebagai media bahan pembelajaran. Diharapkan, dari ketiga ranah tersebut, akan terbentuk hasil akhir yang memiliki jiwa patriotisme serta semangat nasionalisme yang berjiwa Pancasila.
The Output?
Berawal dari Pancasila, semua hal tersebut akan bermuara kepada terbentuknya pemuda pemudi kebanggaan bangsa yang agamis, berbudi luhur, berjiwa kesatria dan patriotik, serta untuk membawa harkat, martabat, dan kehormatan negara Indonesia di mata dunia. Hal ini juga demi membangkitkan lagi Pancasila yang selama ini telah "mati" suri dalam sanubari muda-mudi.



0 Comments:
Post a Comment