Tuesday, 11 November 2014

Drakula dalam Islam

Evil grin from Mr. Draco
Kejam, bengis, berdarah dingin, serta menghisap darah korbannya tanpa kenal ampun serta latar belakang kastil yang gelap nan menyeramkan mungkin melengkapi pandangan anda ketika pertama kalinya mendengar kata Drakula. Yap, banyak dari kita mengenal bahwa sosok Drakula tergambar seperti deskripsi yang baru saja disampaikan. Namun nyatanya, tak banyak orang yang mengetahui bahwa kisah Drakula ini memiliki sangkut-paut dengan sejarah Islam pada masa dinasti Turki Ustmani, tepatnya pada masa Mehmed II atau yang lebih dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih. Bagaimana bisa perubahan latar belakang cerita ini terjadi? Dari mana ide semacam ini berasal? Siapa yang bertanggung jawab atas cerita-cerita Drakula masa kini?

"There was one great Tomb more Lordly than all the rest; Huge it was, and Nobly proportioned. On it was but one Word, Dracula." Bram Stoker, Dracula.



Adalah Abraham "Bram" Stoker, seorang novelis ternama berkebangsaan Irlandia dan novelnya yang menggambarkan Drakula seperti yang saat ini dikenal oleh banyak orang. Tentu saja atas kepentingan novelnya, ia membumbui ceritanya dengan hal-hal fiktif yang sejatinya tidak pernah ada dalam sejarah. Meskipun sejatinya Drakula versi novel Stoker dengan Drakula yang ada saat ini sama-sama digambarkan memiliki kebiadaban, namun tetap saja, sejarah yang asli telah diselewengkan.

Their Version?

Dracula: Untold

Pada tahun 2014, terdapat salah satu film bergaya abad pertengahan besutan sutradara Gary Shore bernama Dracula Untold yang mengambil latar abad ke-15 tepatnya pada tahun 1461. Layaknya film Box Office yang banyak kita kenal, tentunya pembaca sekalian mampu menerka bahwasanya film ini mengandung banyak twist, serta adegan yang sejatinya tidak sesuai dengan sejarah Drakula itu sendiri. Dalam film ini diceritakan seorang penguasa Transylvania, Vlad III atau yang lebih dikenal sebagai Tepes harus menenggelamkan dirinya ke dalam dunia "kegelapan" demi menyelamatkan kerajaannya dari bangsa Turki. Yap, dalam cerita ini penyerangan bangsa Turki dipimpin langsung oleh sosok paling berpengaruh dalam Islam, Muhammad al Fatih.



Sebelumnya diceritakan bahwa Tepes merupakan bocah Transylvania yang tertangkap oleh pasukan Turki. Singkat cerita Tepes muda dilatih oleh satuan Jannisaries (pasukan elit dinasti Ottoman), sehingga lahirlah Vlad seorang mesin pembunuh. Hingga sampai pada akhirnya sang Fatih mengultimatum Tepes untuk memberikan 10.000 pemuda Transylvania untuk nantinya akan dilatih menjadi Janisaries ulung, atau Tepes dan keluarganya harus menghadapi serangan bangsa Turki.

A Film's Cover from
Dracula Untold
Menghadapi pilihan yang sulit, Tepes tidak ingin generasi penerusnya dididik untuk menjadi mesin pembunuh berkode etik yang tak mempunyai perasaan, sedangkan di sisi lain, ia juga tak ingin mengorbankan keluarga serta kerajaannya untuk diserang oleh pasukan sang Fatih. Hingga ia memilih untuk menemui sang pemilik kekuatan Vampir, meminta kekuatan untuknya agar ia dapat melindungi semuanya.

Dalam film ini, diceritakan pula bahwa sejatinya, Vlad III merupakan teman masa kecil sang sultan Mehmed II semasa pelatihan untuk menjadi Janisaries. Singkat cerita, Tepes memutuskan untuk menjadi "monster" untuk menyelamatkan negerinya dari serangan kaum babar. Pertarungan berakhir dengan kematian Mehmed II yang dihisap habis darahnya oleh Tepes. Seiring berjalannya waktu, Vlad pun mati, lahirlah Drakula.

My Comment

Well, Bravo untuk kalian para Kufar, sekali lagi saya ucapkan Bravo. Dalam film yang baru saja kita ulas bersama, nampak akan balutan skenario yang lembut serta alur cerita yang menegangkan, menarik sekali untuk ditonton, dan cukup sesat untuk dipercaya seutuhnya, bahkan mungkin melecehkan umat Islam.

Bagaimana mungkin seorang Tepes, mampu mengalahkan Mehmed II dengan segala kekuatan khayalnya. Untuk orang yang awam akan sejarah, mungkin akan langsung percaya bahwa Mehmed II adalah pemimpin kaum barbar yang bengis, sadis dan tak manusiawi. Sedangkan, sang "kesatria kegelapan" Tepes, sebagai seorang pahlawan. Untuk pembahasanfakta yang sebenarnya akan diulas lebih lengkap lagi.

Our Version

The Truth

Diceritakan pada film bahwa Tepes merupakan "Penguasa Transylvania, pada faktanya, Vlad III tidak pernah menguasai Transylvania, namun wilayah yang diwariskan kepadanya adalah wilayah Wallachia, Rumania. Tepes merupakan anak dari Vlad II yang menyerah pada kekuasaan kesultanan Turki Utsmani pada masa Murad II, ayah Mehmed II. Al Fatih dan Tepes memang berseteru, namun sang penakluk tidak pernah mati di tangan Tepes, yang terjadi malah sebaliknya, Tepes-lah yang kalah dalam perseteruan ini.

Untuk sekadar informasi, "Dracul-ae" adalah sebutan bahasa Rumania untuk bangsawan Ordo Naga (Rumania: Draco = Naga), dan akhiran "-ae" bermakna "putranya dari". Sedangkan ordo Naga ini sendiri adalah salah satu kelompok ksatria yang telah dipersiapkan oleh Sigismund (Sigmund atau Siegmund) Raja Romawi di kala itu, menjadi ksatria khusus dalam perang salib. Nama Drakula sendiri merujuk pada Vlad III "Tepes", anak dari Vlad II Voivode (gubernur) Wallachia, Rumania.

One of the Most Beautiful spot
in Romania is Catatean Poenari
(Poenari Fort)
Pada masa kepemimpinan ayahnya, Vlad II, Wallachia dikuasai oleh kesultanan Utsmani, dan sebagai jaminan kesetiaan, Vlad III kemudian dikirimkan untuk disekolahkan di sekolah kesultanan Utsmani. Tepes muda lalu dididik di kesatuan Yeniseri, tempat pasukan khusus militer kesultanan Turki bersama adiknya Radu Cel Frumos. Disitulah mereka belajar di kesatuan militer yang terbaik pada masanya. Usia Tepes pada waktu itu masih muda belia, sekitar 13 tahun, hanya selisih satu tahun lebih tua dari Mehmed II putra Murad II sultan Turki pada saat itu.

Walaupun dalam masa remaja, Tepes sudah disumpah dalam ordo Naga yang dibentuk untuk memerangi kaum Muslim, dan dari situlah, objek utamanya mulai terbentuk. Karena itu pula Tepes sangat membenci Mehmed II dan Islam, walaupun pada akhirnya adiknya, Radu Cel Frumos menjadi seorang Mualaf dan diangkat menjadi panglima Yeniseri kepercayaan Mehmed sewaktu ia menggantikan ayahnya memimpin kesultanan.

Saat ayah Tepes, yaitu Vlad II terbunuh akibat kudeta pada tahun 1447 yang didalangi oleh John Hunyad dari Hungaria. Menyikapi hal ini, kesultanan Utsmani bertindak untuk membantu membebaskan Wallachia dari cengkeraman John Hunyad. Selepas itu sultan Murad II, ayah Mehmed II, lalu meminta pada Tepes untuk menggantikan kedudukan mendiang ayahnya memimpin di Wallachia. Diluar dugaan sultan Murad II, inilah kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Tepes, yang sedari awal-pun membenci ayahnya, karena mau tunduk pada kaum Muslim.

Berbekal bahasa Arab, bahasa Turki serta pengetahuan dan pengalaman militer semasa di sekolah Yeniseri, Tepes menyamar menjadi bagian dari kaum Muslim di setiap benteng-benteng kesultanan Utsmani yang ada di Rumania lalu menghancurkan tiap-tiapnya dari dalam. Setelah Sultan Mehmed II mendapat gelar Al-Fatih karena berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, ia mengutus beberapa utusannya pada tahun 1459, untuk memastikan kondisi dan keadaan di Wallachia serta menagih Jizyah (pajak bagi para kafir).
The Painting about
Forest of Corpse which
made by Tepes the Impaler

Tanpa ampun Tepes membunuh utusan-utusan dari kesultanan Turki yang datang ke Rumania. Mencari masalah, Tepes membunuh para utusan ini dengan memaku sorban mereka ke kepalanya. Dengan dalih bahwa utusan itu bertindak kurang ajar, tidak menghormatinya dengan tidak mau melepas sorbannya, dengan alasan mereka hanya ingin membuka sorbannya hanya di hadapan Allah saja.

Mengetahui hal tersebut, sultan Mehmed II lalu menanggapi masalah Wallachia secara khusus sehingga pada tahun 1461, ia memerintahkan panglimanya Hamzah Bey membawa 1.000 pasukan untuk menangkap Tepes untuk diadili serta mengembalikan kestabilan di wilayah Wallachia. Sejarah mengatakan bahwa ke-1.000 pasukan Yaniseri ini berakhir tragis. Tepes menggunakan kemampuan infiltrasinya dengan apa yang ia pelajari di sekolah Yeniseri. Tepes paham benar taktik dan strategi berperang pasukan al Fatih.

Selepas Tepes membantai habis seluruh pasukan yang dipimpin Hamzah, ia menyula (menusuk dengan kayu dari anus hingga tembus ke kerongkongan) 1.000 pasukan ini dan menancapkannya pada daerah pertempuran, sehingga menjadi hutan mayat manusia. Hamza Bey, komandan pasukan ini, ditempatkan di bagian tengah dan diletakkan pada kayu yang paling tinggi sebagai simbol kemenangan.

Semenjak itulah Vlad III Dracul mendapat gelar "Tepes" atau "The Impaler" - "Sang Penyula", kekejamannyalah yang seharusnya dikenal dan diakui oleh dunia. Mendapati hal ini, sultan Mehmed II menugaskan Radu Cel Frumos, adik dari Vlad III Dracula untuk memimpin 90.000 pasukan guna menghentikan Dracula. Ia percaya bahwa untuk menghentikan serigala diperlukanlah serigala lain. Mehmed II paham betul bahwa Radu merupakan pilihan yang tepat karena dataran Rumania hanya bisa dipahami oleh penduduk aslinya.

Radu memimpin 90.000 menerobos hutan dan tanah berbukit Rumania hanya untuk menyerang kakaknya, Dracula yang bertahan di benteng Catatea Poenari (Benteng Poenari). Pertempuran ini sangat tidak mudah, mengingat Cetatea Poenari, memiliki medan yang terjal dan pepohonan yang menghalangi. Setelah mengalami beberapa kali kegagalan, puncak serangan serdadu Radu terjadi pada tahun 1462, Diana serangan terjadi malam hari. Kejadian itu sampai saat ini dikenal sebagai "Atacul de Noapte" (The Night Attack).

The Crumble of Tepes's Castle
Dracula yang kalah dalam peperangan, menyelamatkan diri dan lari meminta perlindungan kepada pembunuh ayahnya John Hunyad, Raja Hungaria yang dulunya juga pernah melakukan kudeta. Dracula menghabiskan sisa hidupnya dibawah kekuasaan Raja Hungaria, sebelum akhirnya ia meninggal pada tahun 1478 akibat tebasan pedang dari pasukan Turki Utsmani. Hal ini berakhir dengan diangkatnya Radu Cel Frumos menggantikan Dracula untuk menjadi pemimpin Wallachia.

Warisan Dracula tetap kekal bagi dunia, kekejaman tiada banding yang dia lakukan, dan kebiadaban tanpa batas. Anehnya, sampai saat ini Negara Rumania mengakuinya sebagai pahlawan negara dalam perang salib. Jadi jangan kaget bilamana anda menemui banyak patung Vlad III "Tepes" bertebaran di Rumania. Bagi kaum Muslim, Dracula adalah simbol kekejaman musuh kemanusiaan, penusuk manusia, dan penghisap darah. Namun saat ini konsep Dracula, Vampir, dibuat dan dibungkus dengan bagus hingga memikat ummat Muslim dan melupakan "wajah" aslinya.

0 Comments:

Post a Comment

 
;